Inilah Perhitungan Pupuk Nasa Untuk Padi 1 Hektar

Inilah Perhitungan Pupuk Nasa Untuk Padi 1 Hektar

Cara Aplikasi Pupuk Nasa Yang Bagus Untuk Padi

Pupuk Nasa Untuk Padi – Berikut ini adalah ulasan tentang kebutuhan Produk Nasa untuk keperluan budidaya padi dengan luas lahan 1 hektar (10.000 m2).

PERSIAPAN BENIH

  • Rendam benih/biji padi yang akan dijadikan bibit dengan POC NASA d
  • an HORMONIK 12 jam atau 1 malam.
  • Dengan cara benih dimasukan ke dalam ember atau tempat lain lalu tuangkan air bersih lebih banyak dari jumlah benih.
  • Masukan 6 botol POC NASA dan 1 HORMONIK.
  • Diamkan selama 1 malam.
  • Taburkan benih ke lahan yang sudah disiapkan.
  • Lahan tersebut sudah dikasih air dan SUPER NASA.
  • 1 minggu dari benih ditaburkan semprot dengan PESTONA, minggu berikutnya benih disemprot dengan dengan BVR.
  • Penyemprotan setiap 1 minggu sekali bergantian PESTONA dan BVR.

PERSIAPAN LAHAN ATAU OLAH TANAH

Olah lahan dengan GLIO untuk mencegah dan melawan jamur Fusarium yang biasa menyerang akar tanaman dan mengakibatkan layu fusarium :

  • Campurkan GLIO dengan pupuk kandang dengan tujuan untuk memperbanyak atau mempercepat berkembangnya jamur Fusarium.
  • Dosis atau perbandingan yang dipakai adalah 1/3 dari kotak GLIO dicampurkan dengan 25 kg pupuk kandang,
  • Diamkan selama 3 minggu,
  • Setelah hasil dari pupuk kandang berwarna biru kehijauan maka pupuk kandang tersebut siap untuk diterbar di sawah.
  • Persiapan Lahan Dengan Penggemburan Tanah Yaitu Pembalikan Tanah Dengan Cara Diluku.

Sebelum tanah di luku taburkan hasil fragmentasi antara GLIO dan pupuk kandang :

  • Diamkan minimal 1 minggu,
  • Penggemburan lahan dengan cara diluku atau pembalikan tanah
  • Masukan air kira-kira 10 cm
  • Diamkan selam 1 hari,
  • Taburkan pupuk NPK (pupuk makro) dan SUPERNASA (bisa dicairkan atau ditaburkan),
  • Diamkan lahan selama 3 hari,
  • Perataan lahan dengan cara digaru

PENANAMAN ATAU PEMINDAHAN BIBIT PADI

  • Pemindahan bibit padi dilakukan umur benih padi antara 17 hari – 1 bulan,
  • Jarak tanam 25cm x 30 cm membujur dari timur ke barat
  • Metode tanam JAJAR LEGOWO yaitu pemberian antara (tempat kosong) setiap 10 baris tanaman padi.

PENYEMPROTAN PESTISIDA ORGANIK

  • Minggu 1 setelah tanam semportkan PESTONA
  • Minggu 2 semportkan BVR
  • Penyemprotan dilakukan setiap 1 minggu sekali secara bergantian sampai 2 minggu padi menjelang dipanen

PENYEMPROTAN PUPUK ORGANIK NASA

  • Semprotkan POC NASA dan HORMONIK dengan dosis perbandingan 10 tutup botol POC NASA dan 5 tutup botol HORMONIK setiap 1 tangki semprot,
  • Penyemprotan dilakukan setiap 2 minggu atau 15 hari sekali sampai padi menjelang dipanen.

PERHITUNGAN PUPUK ORGANIK NASA

Luas lahan 100 meter :

  • SUPERNASA kemasan 250gr 1 botol
  • POC NASA kemsan 500cc 1 botol
  • HORMONIK kemasan 100cc 1 botol
  • POWERNUTRISI kemasan 250 gr 1 botol

Luas lahan 1 hektar :

  • SUPERNASA kemasan 250 gr 10 botol atau SUPER NASA kemasan 3 kg 1 kotak
  • POC NASA kemsan 500 cc 10 botol atau POC NASA kemsan 3 liter 1 botol
  • HORMONIK kemasan 100 cc 10 botol atau HORMONIK kemasan 500 cc 1 botol
  • POWER NUTRISI kemasan 250 gr 10 botol atau POWERNUTRISI kemasan 3 kg
Pupuk Nasa

PERHITUNGAN PESTISIDA ORGANIK NASA

Luas lahan 100 meter :

  • GLIO 1 kotak
  • BVR 1 kotak
  • PESTONA 1 botol

Luas lahan 1 hektar :

  • GLIO 10 kotak
  • BVR 10 kotak
  • PESTONA 10 botol

PENGGUNAAN PUPUK MAKRO (NPK)

Gunakan pupuk makro NPK seperti biasanya agar hasil panen Anda maksimal dan bisa dikurangi pemakaian sampai 30 %.

PENCAPAIAN HASIL

Panen pertama dari sebelum menggunakan produk NASA biasanya meningkat 100% dan setiap kali panen pasti meningkat terus.

Catatan :

Jika padi sudah terkena hama segera tambah dosis pemakaian pestisida organic atau dengan menyemprotkan PENTANA.

Demikian tata laksana Teknik Budidaya Padi Nasa untuk kebutuhan produk nasa untuk kebutuhan budidaya padi dengan luas 1 hektar atau 1000 m2.

Semoga bisa dijadikan acuan untuk keberhasilan budidaya padi Anda.

Butuh Bantuan? Jangan Sungkan!
Jika Anda Butuh Bantuan, Atau pun Hal -Hal Yang Ingin Ditanyakan, Jangan Ragu Untuk Menghubungi Kami, Dengan Senang Hati Akan Kami Bantu

WA / TELP/ SMS

0821 3309 8486 (Tsel)

Paket Produk Nasa Untuk Solusi Perikanan Dan Tambak

Paket Produk Nasa Untuk Solusi Perikanan Dan Tambak

Paket Produk Nasa Untuk Solusi Perikanan Dan Tambak

Ton Nasa – Kita tahu bahwa indonesia 3/4 luas wilayahnya terdiri dari lautan namun miris sekali untuk hasil kelautanya. Akhir- akhir ini pemerintah juga melarang nelayan yang menggunakan jaring jenis pukat harimau, oleh sebab agar regenerasi ikan tetap terjaga. Namun demikian hasil tambak pun mengalami kemerosotan yang signifikan berbanding jauh di era tahun 80 an.

Usut punya usut mungkin ini karena faktor alam dan ekosistem yang sudah tidak terjaga lagi juga sudah terkontaminasinya tanah serta air oleh residu kimia. Seiring berjalanya waktu PT Natural Nusantara mengembangkan sebuah tekhnologi untuk menjawab semua problema di sektor perikanan.

Paket Produk Organik Nasa untuk solusi Perikanan dan Tambak meliputi :

  • Viterna Plus
  • TON (Tambak Organik Natural)
  • POC NASA (Pupuk Organik Cair Nasa)
  • HORMONIK (Hormon Organik)
  • Tangguh Probiotik

Keunggulan Produk Nasa Untuk Perikanan Dan Tambak

Keunggulan budidaya perikanan air tawar menggunakan Teknologi Organik Nasa

  • Cepat panen
  • Irit pakan
  • Nafsu makan tinggi
  • Cepat tumbuh besar
  • Sehat
  • Tahan penyakit
  • Angka kematian sangat rendah
  • Ikan tidak stress
  • Menghasilkan mutu daging yang berkualitas karena rendah kelesterol.

Saran mendapatkan hasil optimal, Per 1.000 ekor bibit ikan sampai panen idealnya memerlukan 5 botol Viterna + 5 botol Poc Nasa + 5 botol Hormonik

Cara Penggunaan Produk Nasa Untuk Tambak Dan Perikanan

Ketiga Produk Nasa tersebut dicampur terlebih dahulu menjadi satu larutan, dosis :

  • 1 tutup botol campuran tersebut dicampurkan pada 1 liter air kemudian disemprotkan atau dicampurkan pada per 3 kg pakan pelet ikan,
  • Dikering anginkan sekitar 5 menit agar cairan produk Nasa dapat meresap kedalam pakan pelet,
  • Kemudian diberikan kepada ikan.

TON Nasa sebagai pupuk kolam dengan dosis : 1 sendok makan dicampurkan pada 10 liter air kemudian disiramkan ke kolam.

Pemberian TON yang baik saat setelah olah tanah dan pengeringan dasar kolam, dimana kolam dimasukkan air hingga ketinggian 10-20 cm, kemudian siramkan produk TON biarkan selama 4-5 hari untuk membentuk pakan alami ikan yaitu plankton terlebih dahulu serta pengkondisian kolam agar siap untuk ditebar ikan.

Setelah 4-5 hari dari penyiraman TON pada kolam, masukkan kembali air ke kolam hingga ketinggian air sekitar 60-80 cm, kemudian baru masukkan bibit ikan/ lele. Sebaiknya pemasukkan bibit lele saat pagi hari atau sore hari dimana suhu permukaan kolam tidak terlalu panas.

Keunggulan Ton Nasa Untuk Perikanan Dan Tambak

  • 1 Hektar Kolam/ tambak hanya memerlukan Pupuk Tambak Organik TON sebanyak 6 Kg (sampai panen).
  • Praktis dan hemat.
  • Pupuk TON sangat signifikan sebagai pengganti UREA dan pupuk kandang di tambak.
  • Cepat menumbuhkan plankton & zooplankton sebagai pakan alami Ikan, udang dan bandeng sehingga cepat tumbuh besar, cepat panen, dan irit pakan, mencegah ikan stres, meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam air, menetralkan senyawa beracun di tambak.

Harga 1 Paket Tambak Dan Perikanan Nasa

  • Ton 250gr = Rp 55.000
  • Viterna 500cc = Rp 50.000
  • Poc Nasa 500cc = Rp 45.000
  • Hormonik 100cc = Rp 40.000
  • Tangguh Probiotik 1 ltr = Rp 75.000

Demikian informasi dari kami, semoga menjadi bermanfaat dan jalan kesuksesan bagi usaha Anda.

Butuh Bantuan? Jangan Sungkan!
Jika Anda Butuh Bantuan, Atau pun Hal -Hal Yang Ingin Ditanyakan, Jangan Ragu Untuk Menghubungi Kami, Dengan Senang Hati Akan Kami Bantu

WA / TELP/ SMS

0821 3309 8486 (Tsel)

Cara Mengatasi Hama Dan Penyakit Pada Tomat Paling Bagus

Cara Mengatasi Hama Dan Penyakit Pada Tomat Paling Bagus

Cara Mengatasi Hama Dan Penyakit Pada Tomat Dengan Produk Nasa

Cara Mengatasi Hama Dan Penyakit Tomat – Pengendalian penyakit merupakan salah satu faktor penting dalam usaha budidaya tanaman tomat. Serangan hama dan penyakit bisa menurunkan produktivitas panen atau bahkan menyebabkan kematian tanaman. Pengendalian yang tepat menolong kita untuk mendapatkan hasil panen yang optimal.

Berikut ini beberapa penyakit yang sering dijumpai dalam budidaya tanaman tomat di Indonesia.

1. LAYU FUSARIUM

Penyakit ini disebabkan oleh serangan jamur Fusarium Oxysporum. Jamur ini awalnya menyerang dari akar kemudian berkembang melalui jaringan pembuluh. Tanaman tomat yang terkena penyakit ini akan berubah menjadi layu dan mati. Jaringan pembuluh yang terserang berwarna coklat dan menghambat aliran air dari akar ke daun, sehingga daun dan batang atas menjadi layu.

Pada malam hari tanaman masih terlihat segar, begitu ada sinar matahari dan terjadi penguapan tanaman dengan cepat menjadi layu. Pada sore harinya, bias kembali menjadi segar dan keesokan harinya akan layu kembali hingga pada akhirnya mati.

Untuk menghindari serangan penyakit ini gunakan benih yang resisten. Penggunaan mulsa plastik juga bias menekan perkembangan jamur di dalam tanah. Hindari budidaya tanaman tomat pada bekas lahan yang pernah terserang jamur ini. Berikan jeda yang cukup lama hingga bias kembali ditanami tomat.

Untuk membantu mencegah makin berkembang jamur ini maka upayakan pH tanah diatas dengan menambahkan dolomit di seputaran batang. Dan akan lebih kuat lagi adalah dengan menaburkan GLIO setelah dolomit. Hal ini untuk menjaga tanaman dari serangan Jamur yang menyebabkan Layu Fusarium.

2. BUSUK DAUN

Penyakit busuk daun disebabkan oleh jamur PhytophthoraInfestans. Penyakit ini biasanya menyerang tanaman tomat di daerah dataran tinggi. Gejalanya adalah terdapat bercak coklat hingga hitam. Awalnya menyerang ujung dan sisi daun, kemudian meluas ke seluruh permukaan daun hingga ke tangkai daun.

Tanaman yang terserang penyakit ini harus segera dicabut dan dibakar, jangan dikubur. Gunakan varietas unggul dan bebas jamur. Hampir mirip dengan Layu Fusarium, namun dengan penyebab yang berbeda. Pengendalian dan pencegahannya sama, yaitu dengan menggunakan GLIO yang ditaburkan diseputar tanaman.

3. BUSUK BUAH

Busuk buah disebabkan oleh cendawan Thanatephorus Cucumeris. Buah yang terserang akan terlihat bercak kecil berwarna coklat, kemudian akan membesar, cekung, dan bagian tengahnya retak. Selain itu ada busuk buah yang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum Coccodes. Gejalanya terdapat bercak kecil berair, membulat, dan cekung. Pada pangkal buah dekat tangkai terdapat bercak ungu.

Pengendalian penyakit ini adalah dengan menggunakan benih resisten. Sisa tanaman yang sakit tidak boleh dipendam tapi harus dibakar untuk memutus siklus hidup cendawan. Gunakan air untuk menopang tanaman tomat agar buah tidak menyentuh tanah. Pengendalian nya dilakukan dengan cara, menyemprotkan GLIO setelah disaring terlebih dahulu, dan dengan cara dikocorkan di seputar tanaman.

4. BERCAK BAKTERI

Penyakit bercak bakteri disebabkan oleh Xanthomonas Vesicatoria. Penyakit ini bisa menyerang buah, daun, dan batang tanaman tomat. Pada buah pada mulanya terlihat bercak berair akan berubah menjadi bercak bergabus. Daun yang terserang akan terlihat keriting dan mengering. Sedangkan batang yang terserang akan terlihat kerang memanjang berwarna ke abu-abuan.

Cara mengendalikannya dapat dilakukan dengan memilih benih unggul yang bebas penyakit. Rotasi tanaman dengan yang berbeda keluarga bias membantu menekan resiko serangan. Tanaman yang terserang dicabut dan dibakar. Ini juga bakteri yang sering menyerang pada tanaman tomat. Dapat dicegah dan dikendalikan dengan menggunakan campuran GLIO dan CORRIN dengan cara disemprotkan .

Semoga informasi ini bermanfaat, sehingga Anda lebih waspada untuk mencegah hama dan penyakit yang menyerang tanaman tomat Anda.

Butuh Bantuan? Jangan Sungkan!
Jika Anda Butuh Bantuan, Atau pun Hal -Hal Yang Ingin Ditanyakan, Jangan Ragu Untuk Menghubungi Kami, Dengan Senang Hati Akan Kami Bantu

WA / TELP/ SMS

0821 3309 8486 (Tsel)

Pupuk Perangsang Buah Pepaya California Paling Bagus Dari Nasa

Pupuk Perangsang Buah Pepaya California Paling Bagus Dari Nasa

Pupuk Perangsang Buah Pepaya California Paling Bagus Dari Nasa

Pupuk Nasa Untuk Pepaya California – Buah Pepaya merupakan salah satu makanan sehat dan dicari oleh banyak orang untuk dikonsumsi. Salah satu jenis papaya yang mempunyai banyak keuntungan dan keunggulan untuk di budidayakan adalah pepaya jenis Pepaya California. Pepaya California dapat dipanen ketika usianya menginjak 8 atau 9 bulan, dengan frekuensi panen bisa dilakukan 4 kali dalam sebulan.

Dalam membudidayakan Pepaya California ada beberapa hal yang harus diperhatikan, sehingga bisa menunjang pertumbuhan tanaman sekaligus menghasilkan buah yang berkualitas dan sehat.

I. PEMBIBITAN ATAU PENYEMAIAN

Pada tahap pembibitan ini, bibit bisa didapatkan dari biji Pepaya California yang sudah disemai. Usahakan mengambil biji dari buah yang sehat dan sudah masak di atas pohonnya. Alternatif lain adalah membeli benih Pepaya California yang sudah terjamin kualitasnya di toko pertanian.

BERIKUT INI ADALAH LANGKAH PENYEMAIAN :

  • Rendam biji-biji tersebut di dalam air selama kurang lebih semalam. Kemudian, buang biji-biji yang mengambang dan ambil biji-biji yang tenggelam.
  • Letakkan biji di atas koran basah lalu simpan di tempat teduh sampai tumbuh tunas.
  • Jika tunas sudah tumbuh maka pindahkan bibit ke polybag yang sudah diisi tanah dan kompos/pupuk kandang dengan perbandingan 2:1.
  • Sirami dengan air secukupnya dan letakkan ditempat yang terkena sinar matahari.
  • Umumnya bibit bisa ditanam ketika umur 1 sampai dengan 1,5 bulan setelah penyemaian.

II. PERSIAPAN LAHAN TANAM

  • Bersihkan lahan dari rumput liar dan gulma yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.
  • Buat bedengan untuk penanaman dalam jumlah banyak. Bedengan berfungsi agar tidak ada genangan disekitar tanaman yang dapat merusak batang menjadi busuk
  • Buatlah lubang tanam berukuran 50 cm dengan jarak antar lubang 2,5 m x 2,5 m.
  • Diamkan lubang tanam selama 15 hari, kemudian lubang ditimbun kembali dengan tanah yang telah dicampur 25 gram SUPERNASA, namun tidak sampai menutup lubang. Jangan lupa taburkan DOLOMIT sebelum ditinggalkan.
  • Lubang dialiri air secukupnya sehari sebelum penanaman.

III. PENANAMAN

  • Pindahkan bibit Pepaya California yang sudah berusia 1,5 bulan dari polybag ke lubang tanam.
  • Selanjutnya lakukan penanam bibit pada sore hari.
  • Lepaskan plastik polybag dan tanam bibit beserta tanah media semainya secara hati-hati, lalu timbun dengan tanah disekitar lubang tanam.

IV.PERAWATAN

Untuk menunjang pertumbuhan dan kualitas Pepaya harus dilakukan perawatan secara intensif.

Penyulaman dilakukan apabila ada bibit yang mati karena penyakit atau hama atau panas matahari dan tidak tumbuh normal.

Penyiraman dilakukan secara rutin dan secukupnya, tidak berlebihan dan tidak kurang, agar tanaman mendapatkan asupan air yang cukup. Kocoran pertama tambahkan 15 gram SUPERNASA per bibit tanaman.

Perhatikan saluran drainase, agar tidak ada genangan di sekitar tanaman.

Pupuk Nasa Untuk Pepaya California

  • Pemupukan dilakukan dengan memberi pupuk NPK 200 gr/pohon.
  • Penyemprotan tanaman juga dilakukan setelah tanaman berusia 3 minggu dengan POC NASA 3 tutup dan HORMONIK 1 tutup dalam 12 – 15 liter air. Semprotkan 2 minggu sekali.
  • Memasuki usia 3 bulan berikan pupuk sebanyak 300 gr/pohon.
  • Usia 6 bulan berikan pupuk sebanyak 500 gr/pohon dan ditambah dengan POWER NUTRITION 3 Kg/Ha atau sekitar 10 gram per tanaman.
  • Usia 9 bulan diberikan 500 gr/pohon.
  • Usia 12 bulan diberikan 500 gr/pohon dan 10 gr SUPERNASA dan 10 gram POWER NUTRITION dicampurkan.
  • Setelah pohon berbuah, berikan pupuk KCI 500 gr/pohon.
  • Pangkas tunas atau dahan-dahan yang mengganggu.
  • Jaga Kondisi pH tanah diantara 6 – 7.
Pupuk Nasa

V. PEMANENAN

Pemanenan sudah bisa dilakukan setelah usia panen menginjak 8-9 bulan. Ciri-cirinya terlihat tanda garis kuning pada buah papaya menandakan buah pepaya sudah matang. Tangkai dipotong dengan gunting pangkas/pisau tajam agar tidak merusak buah.

Pemanenan bisa dilakukan setiap 10 hari sekali atau 4 kali dalam sebulan.

Mudah dan menarik kan?

Selamat Mencoba….

Butuh Bantuan? Jangan Sungkan!
Jika Anda Butuh Bantuan, Atau pun Hal -Hal Yang Ingin Ditanyakan, Jangan Ragu Untuk Menghubungi Kami, Dengan Senang Hati Akan Kami Bantu

WA / TELP/ SMS

0821 3309 8486 (Tsel)

Hama Dan Penyakit Pada Ikan Lele Dan Cara Mengatasinya

Hama Dan Penyakit Pada Ikan Lele Dan Cara Mengatasinya

Hama Dan Penyakit Pada Ikan Lele Dan Cara Mengatasinya

Hama Dan Penyakit Pada Ikan Lele – PT.Natural Nusantara membantu peternak maupun pemula budidaya ikan lele untuk mengetahui jenis hama dan penyakit ikan lele yang umumnya terjadi dengan pedoman teknik budidaya ikan lele dan paket Produk Nasa organik yang mengedepankan aspek Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan (K-3).

Hama dan penyakit ikan lele banyak ragamnya, beternak lele tanpa memperhitungkan resiko serangan hama dan penyakit akan membawa malapetaka.Serangan hama dan penyakit ikan lele bisa dihindari dengan memperbaiki manajemen budidaya.

Pengendalian Penyakit Ikan Lele

Penyakit ikan lele hampir sama dengan penyakit yang ditemui pada ikan tawar lainnya. Penyakit yang biasa menyerang terdiri dari penyakit infeksi yang disebabkan jamur, protozoa, bakteri dan virus.

Berikut beberapa penyakit ikan lele yang disebabkan oleh infeksi

  • Penyakit bintik putih (white spot)

penyebabnya adalah protozoa dari jenis Ichthyphyhirius multifillis. Penyakit ini menyerang hampir semua jenis ikan air tawar. Pada ikan lele banyak menyerang benih. Bintik-bintik putih tumbuh pada permukaan kulit dan insang. Bila terkena ikan akan mengosok-gosokkan badannya ke dinding atau dasar kolam. Peyakit ikan lele ini dipicu oleh kualitas air yang buruk, suhu air terlalu dingin dan kepadatan tebar ikan yang tinggi.

Untuk mencegah agar ikan tidak terkena white spot, pertahankan suhu air pada kisaran 28 derajad Celsius dan gunakan air yang baik kualitasnya.

  • Penyakit gatal (Trichodiniasis) disebabkan oleh protozoa jenis Trichodina sp.

Gejala penyakit ikan lele Trichodiniasis adalah ikan terlihat lemas, warna tubuh kusam dan sering menggosok-gosokan badannya ke dinding dan dasar kolam. Penyakit ikan lele ini menular karena kontak langsung dan juga lewat perantara air.

Kepadatan ikan yang terlalu tinggi dan kekurangan oksigen disinyalir memicu perkembangannya. Penyakit ikan lele ini bisa dicegah dengan mengatur kepadatan tebar dan menjaga kualitas air.

  • Serangan bakteri Aeromonas hydrophila.

Penyakit ikan lele yang ditimbulkan bakter ini menyebabkan perut ikan menggembung berisi cairan getah bening, terjadi pembengkakan pada pangkal sirip dan luka-luka disekujur tubuh ikan. Faktor pemicu penyakit ikan lele ini adalah penumpukan sisa pakan yang membusuk di dasar kolam.

Untuk mencegahnya, upayakan pemberian pakan yang lebih tepat dan pertahankan suhu air 28 derajad celsius.

  • Penyakit Cotton wall disease

penyebabnya bakteri Flexibacter Columnaris. Bakteri ini menyerang organ dalam seperti insang. Gejala yang ditimbulkannya adalah terjadi luka atau lecet-lecet pada permukaan tubuh, ada lapisan putih atau bintik putih, gerakan renang lambat dan ikan banyak mengambang. Faktor pemicunya adalah pembusukan sisa pakan didasar kolam dan suhu air yang naik terlalu tinggi.

Pencegahannya dengan mengontrol pemberian pakan dan mempertahankan suhu air pada 28oC.

  • Penyakit karena serangan Channel catfish virus (CCV)

Virus ini tergolong kedalam virus herpes. Ikan yang terinfeksi tampak lemah, berenang berputar-putar, sering tegak vertikal di permukaan, dan pendarahan dibagian sirip dan perut. Faktor pemicu penyakit ikan lele ini adalah fluktuasi suhu air, penurunan kualitas air dan kepadatan tebar yang tinggi.

Untuk mencegah serangan virus ini adalah dengan cara memperbaiki manajemen budidaya, menjaga kebersihan kolam dan pemberian pakan yang berkualitas.

Pengobatan ikan yang telah terinfeksi jenis virus ini belum diketahui. Namun penyakit ikan lele ini bisa pulih dengan meningkatkan kebersihan kolam seperti mengganti air kolam hingga ikan terlihat pulih.

Selain penyakit ikan lele di atas, terdapat juga sejumlah penyakit yang bukan disebabkan oleh infeksi melainkan disebabkan oleh kondisi lingkungan, seperti keracunan dan lain sebagainya.

Berikut beberapa penyakit non-infeksi yang penting diketahui dalam beternak lele

  • Penyakit kuning (Jaundice)

penyakit ini akibat dari kesalahan nutrisi pakan. Penyebabnya antara lain kualitas pakan yang buruk, seperti telah kadaluarsa atau pakan disimpan di tempat lembab sehingga pakan rusak. Beberapa keterangan mengatakan jaundice bisa disebabkan oleh pemberian jeroan atau ikan rucah secara kontinyu.

Keterangan lain mengatakan serangan jaundice bisa datang apabila dalam air kolam banyak terdapat alga merah.

  • Pecah usus atau Reptured Intestine Syndrom (RIS)

Penyakit ikan lele ini terlihat dari gejalanya yang khas yaitu pecahnya usus. Penyebabnya adalah pemberian pakan yang berlebihan. Ikan lele merupakan ikan yang rakus, berapapun pakan yang kita berikan akan di santapnya sehingga akan memecahkan usus bagian tengah atau belakang. Untuk menghindarinya, lakukan pengaturan pemberian pakan yang efektif. Kebutuhan pakan ikan lele per hari adalah 3-6% dari berat tubuhnya dan harus diberikan secara bertahap, pagi, siang, sore atau malam hari.

Kekurangan vitamin, kasus kekurangan vitamin yang paling sering pada ikan lele adalah kekurangan vitamin C. Kekurangan vitamin ini akan mengakibatkan tubuh ikan bengkok dan tulang kepala retak-retak.

  • Penyakit keracunan

penyakit ini ditimbulkan karena faktor lingkungan seperti air yang tercemar pestisida, atau akibat kimia industri lainnya. Untuk menanggulanginnya, usahakan penggantian air kolam minimal sebanyak 20% setiap dua kali sehari.

Manajemen Kesehatan Ikan Lele

Pada dasarnya, anakan lele yang dipelihara tidak akan sakit jika mempunyai ketahanan tubuh yang tinggi. Anakan lele menjadi sakit lebih banyak disebabkan oleh kondisi lingkungan (air) yang jelek. Kondisi air yang jelek sangat mendorong tumbuhnya berbagai bibit penyakit baik yang berupa protozoa, jamur, bakteri dan lain-lain.

Maka dalam menejemen kesehatan pembenihan lele, yang lebih penting dilakukan adalah penjagaan kondisi air dan pemberian nutrisi yang tinggi. Dalam kedua hal itulah, peranan TON, POC NASA, VITERNA Plus sangat besar.

Namun apabila anakan lele terlanjur terserang penyakit, dianjurkan untuk melakukan pengobatan yang sesuai. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa, bakteri dan jamur dapat diobati dengan formalin, larutan PK (Kalium Permanganat) atau garam dapur. Penggunaan obat tersebut haruslah hati-hati dan dosis yang digunakan juga harus sesuai.

Demikian masalah hama dan penyakit ikan lele sehingga bisa membantu peternak ikan lele yang bisa saya sampaikan mudah-mudahan bermanfaat.

Butuh Bantuan? Jangan Sungkan!
Jika Anda Butuh Bantuan, Atau pun Hal -Hal Yang Ingin Ditanyakan, Jangan Ragu Untuk Menghubungi Kami, Dengan Senang Hati Akan Kami Bantu

WA / TELP/ SMS

0821 3309 8486 (Tsel)

Hama Dan Penyakit Pada Ternak Puyuh Dan Solusinya

Hama Dan Penyakit Pada Ternak Puyuh Dan Solusinya

Hama Dan Penyakit Pada Ternak Puyuh Dan Solusinya Dari Nasa

Hama Dan Penyakit Pada Puyuh – Setelah pembahasan sebelumnya mengenai teknis budidaya burung puyuh, pada pembahasan kali ini kami akan membahas masalah hama dan penyakit pada ternak burung puyuh. Apa saja jenis penyakitnya dan bagaimana gejalanya ? berikut ini hama dan penyakit yang umumnya terjadi pada burung puyuh :

Hama dan Penyakit Burung Puyuh

QUAIL ENTERITIS

  • Penyebab: bakteri anerobik yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul pearadangan pada usus.
  • Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair dan mengandung asam urat.
  • Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan burung puyuh yang sehat dari yang telah terinfeksi.

TETELO (NCD/NEW CASSTLE DISEAE)

Gejala: puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang spesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh.

Pengendalian:

  1. Menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera dibakar/dibuang
  2. Pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.
  3. Untuk mengatasi penyakit TETELO pada burung puyuh.

BERAK PUTIH (PULLORUM)

  • Penyebab: Kuman Salmonella pullorum dan merupakan penyakit menular.
  • Gejala: kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu mengerut dan sayap lemah menggantung.
  • Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit tetelo.

BERAK DARAH (COCCIDIOSIS)

  • Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.
  • Pengendalian: menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering

CACAR UNGGAS (FOWL POX)

  • Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dari semua umur dan jenis kelamin.
  • Gejala: imbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak berbulu, seperti pial, kaki, mulut dan farink yang apabila dilepaskan akan mengeluarkan darah.
  • Pengendalian: vaksin dipteria dan mengisolasi kandang atau puyuh yang terinfksi.

QUAIL BRONCHITIS

  • Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) yang bersifat sangat menular.
  • Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk dan bersi, mata dan hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta kadangkala kepala dan leher agak terpuntir.
  • Pengendalian: pemberian pakan yang bergizi dengan sanitasi yang memadai.

ASPERGILLOSIS

  • Penyebab: cendawan Aspergillus fumigatus.
  • Gejala: Puyuh mengalami gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju, mengantuk, nafsu makan berkurang.
  • Pengendalian: memperbaiki sanitasi kandang dan lingkungan sekitarnya.

CACINGAN

  • Penyebab: sanitasi yang buruk.
  • Gejala: puyuh tampak kurus, lesu dan lemah.
  • Pengendalian: menjaga kebersihan kandang dan pemberian pakan yang terjaga kebersihannya.

Catatan :

Penggunaan produk Nasa, Viterna, POC Nasa, dan Hormonik ini juga sangat bermanfaat untuk menanggulangi terjadinya serangan penyakit, selain untuk meningkatkan produksi telur pada budidaya burung puyuh.

Demikian yang dapat kami sampaikan mengenai jenis dan gejala penyakit burung puyuh, semoga bermanfaat untuk Anda yang sedang menggeluti budidaya burung puyuh.

Butuh Bantuan? Jangan Sungkan!
Jika Anda Butuh Bantuan, Atau pun Hal -Hal Yang Ingin Ditanyakan, Jangan Ragu Untuk Menghubungi Kami, Dengan Senang Hati Akan Kami Bantu

WA / TELP/ SMS

0821 3309 8486 (Tsel)

Cara Budidaya Puyuh Paling Bagus Dari Nasa

Cara Budidaya Puyuh Paling Bagus Dari Nasa

Teknik Budidaya Burung Puyuh Teknologi Nasa

Budidaya Puyuh Dengan Produk Nasa – Hampir semua orang tahu apa itu burung puyuh, selain untuk konsumsi telur puyuh juga sangat di gemari di pasaran, baik itu anak-anak sampai orang dewasa. Nah ! sudah tahu kah Anda manfaat telur puyuh ? Telur puyuh mengandung berbagai vitamin dan mineral. Bahkan dengan ukurannya yang kecil, nilai gizinya tiga sampai empat kali lebih besar dari telur ayam.

Pada pembahasan kali kami coba membahas teknis budidaya burung puyuh dengan teknologi nasa yang sudah teruji dan terbukti mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi telur yang lebih meningkat.

Sejarah Budidaya Puyuh

Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Burung puyuh disebut juga Gemak (Bhs. Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut “Quail”, merupakan bangsa burung (liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat, tahun 1870. Dan terus dikembangkan ke penjuru dunia.

Sedangkan di Indonesia puyuh mulai dikenal, dan diternak semenjak akhir tahun 1979. Kini mulai bermunculan di kandang-kandang ternak yang ada di Indonesia.

B. Sentra Peternakan Puyuh

Sentra Peternakan burung puyuh banyak terdapat di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah.

C. Jenis Burung Puyuh

  • Kelas : Aves (Bangsa Burung)
  • Ordo : Galiformes
  • Sub Ordo : Phasianoidae
  • Famili : Phasianidae
  • Sub Famili : Phasianinae
  • Genus : Coturnix
  • Species : Coturnix-coturnix Japonica

D. Manfaat Ternak Burung Puyuh

  • Telur dan dagingnya mempunyai nilai gizi dan rasa yang lezat
  • Bulunya sebagai bahan aneka kerajinan atau perabot rumah tangga lainnya
  • Kotorannya sebagai pupuk kandang ataupun kompos yang baik dapat digunakan sebagai pupuk tanaman

E. Syarat Beternak Puyuh Yang Bagus

  • Lokasi jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk
  • Lokasi mempunyai strategi transportasi, terutama jalur sapronak dan jalur-jalur pemasaran
  • Lokasi terpilih bebas dari wabah penyakit
  • Bukan merupakan daerah sering banjir
  • Merupakan daerah yang selalu mendapatkan sirkulasi udara yang baik.

F. Teknis Budidaya Puyuh

1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

a) Perkandangan

Dalam sistem perkandangan yang perlu diperhatikan adalah temperatur kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 derajat C, kelembaban kandang berkisar 30-80%, penerangan kandang pada siang hari cukup 25-40 watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku untuk cuaca mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar matahari pagi dapat masuk kedalam kandang.

Model kandang puyuh ada 2 (dua) macam yang biasa diterapkan yaitu sistem litter (lantai sekam) dan sistem sangkar (batere). Ukuran kandang untuk 1 m2 dapat diisi 90-100 ekor anak puyuh, selanjuntnya menjadi 60 ekor untuk umur 10 hari sampai lepas masa anakan. Terakhir menjadi 40 ekor/m2 sampai masa bertelur.

Adapun kandang yang biasa digunakan dalam budidaya burung puyuh adalah:

1). Kandang untuk induk pembibitan

Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas dan kemampuan menghasilkan telur yang berkualitas. Besar atau ukuran kandang yang akan digunakan harus sesuai dengan jumlah puyuh yang akan dipelihara. Idealnya satu ekor puyuh dewasa membutuhkan luas kandang 200 m2.

2). Kandang untuk induk petelur

Kandang ini berfungsi sebagai kandang untuk induk pembibit. Kandang ini mempunyai bentuk, ukuran, dan keperluan peralatan yang sama. Kepadatan kandang lebih besar tetapi bisa juga sama.

3). Kandang untuk anak puyuh/umur stater(kandang indukan)

Kandang ini merupakan kandang bagi anak puyuh pada umur starter, yaitu mulai umur satu hari sampai dengan dua sampai tiga minggu. Kandang ini berfungsi untuk menjaga agar anak puyuh yang masih memerlukan pemanasan itu tetap terlindung dan mendapat panas yang sesuai dengan kebutuhan. Kandang ini perlu dilengkapi alat pemanas.

Biasanya ukuran yang sering digunakan adalah lebar 100 cm, panjang 100 cm, tinggi 40 cm, dan tinggi kaki 50 cm. (cukup memuat 90-100 ekor anak puyuh).

4). Kandang untuk puyuh umur grower (3-6 minggu) dan layer (lebih dari 6 minggu)

Bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dengan kandang untuk induk petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram.

b) Peralatan

Perlengkapan kandang berupa tempat makan, tempat minum, tempat bertelur dan tempat obat-obatan.

2. Penyiapan Bibit

Yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum memulai usahanya, adalah memahami 3 (tiga) unsur produksi usaha perternakan yaitu bibit/pembibitan, pakan (ransum) dan pengelolaan usaha peternakan.

Pemilihan, yaitu:

  • Untuk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam betina yang sehat atau bebas dari kerier penyakit.
  • Untuk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan dan puyuh petelur afkiran.
  • Untuk pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina yang baik produksi telurnya dan puyuh jantan yang sehat yang siap membuahi puyuh betina agar dapat menjamin telur tetas yang baik.

3. Pemeliharaan

a) Sanitasi dan Tindakan Preventif

Untuk menjaga timbulnya penyakit pada pemeliharaan puyuh kebersihan lingkungan kandang dan vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan sedini mungkin.

b) Pengontrolan Penyakit

Pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat dan apabila ada tanda-tanda yang kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan pengobatan sesuai dengan petunjuk dokter hewan atau dinas peternakan setempat atau petunjuk dari Poultry Shoup.

c) Pemberian Pakan

Ransum (pakan) yang dapat diberikan untuk puyuh terdiri dari beberapa bentuk, yaitu: bentuk pallet, remah-remah dan tepung. Karena puyuh yang suka usil memtuk temannya akan mempunyai kesibukan dengan mematuk-matuk pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 (dua) kali sehari pagi dan siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan ransum hanya satu kali sehari yaitu di pagi hari. Untuk pemberian minum pada anak puyuh pada bibitan terus-menerus.

Produk Nasa Untuk Budidaya Puyuh Agar Bertelur Banyak

PT. NATURAL NUSANTARA mengeluarkan suplemen khusus ternak yaitu VITERNA Plus dan POC NASA. Produk-produk ini menggunakan teknologi asam amino, mineral dan vitamin yang diciptakan dengan pendekatan fisiologis tubuh puyuh yaitu dengan meneliti berbagai nutrisi yang dibutuhkan puyuh.

VITERNA dan POC NASA mengandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan puyuh yaitu :

  • Asam-asam amino esensial, yaitu Arginin, Hiistidin, Leusin, Isoleusin dan lain-lain sebagai penyusun protein tubuh, pembentuk sel dan organ tubuh.
  • Vitamin lengkap yang berfungsi untuk berlangsungnya proses fisiologis tubuh yang normal dan meningkatkan ketahanan tubuh itik petelur dari serangan penyakit.
  • Mineral-mineral lengkap yaitu N, P, K, Ca, mg , Cl dan lain-lain sebagai penyusun tulang, darah dan berperan dalam sintesis enzim untuk memperlancar proses metabolisme dalam tubuh.

Cara penggunaannya adalah dengan mencampur/mengoplos VITERNA Plus dan POC NASA menjadi satu botol terlebih dahulu.

Kemudian dicampurkan pada air minum dengan dosis : 1 tutup botol campuran VITERNA Plus dan POC NASA untuk sekitar 10 liter air minum dan diberikan setiap 3 hari sekali, terutama pada pagi hari.

Air minum diberikan tidak terbatas, jika sudah habis harus diisi kembali. Gunakan air yang bersih, bebas dari logam dan mikroorganisme. Tempat penampungan air pun tidak terbuat dari bahan yang mudah berkarat.

Keunggulan dan manfaat pemberian VITERNA dan POC NASA pada burung puyuh adalah :

  1. Berasal dari bahan alami/organik, bukan dari bahan-bahan kimia atau sintetik,
  2. Mampu menggantikan pemberian vitamin dan mineral kimia/sintetik,
  3. Meningkatkan nafsu makan,
  4. Mengurangi kestresan pada ayam, baik pada saat masuk kandang pertama kali, setelah ayam divaksinasi atau saat ayam dalam proses pengobatan,
  5. Mengurangi bau kotoran,
  6. Meningkatkan kesehatan ayam,
  7. Mempercepat waktu pertama bertelur di mana pada burung puyuh umur 30 hari sudah mulai bertelur,
  8. Angka kematian : 3% – 5%, 9) Cangkang telur lebih kuat dan tidak mudah pecah.

d) Pemberian Vaksinasi dan Obat

Pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dengan dosis separo dari dosis untuk ayam. Vaksin dapat diberikan melalui tetes mata (intra okuler) atau air minum (peroral). Pemberian obat segera dilakukan apabila puyuh terlihat gejala-gejala sakit dengan meminta bantuan petunjuk dari PPL setempat ataupun dari toko peternakan (Poultry Shoup), yang ada di dekat Anda beternak puyuh.

G. Panen Budidaya Puyuh

1. Hasil Utama

Pada usaha pemeliharaan puyuh petelur, yang menjadi hasil utamanya adalah produksi telurnya yang dipanen setiap hari selama masa produksi berlangsung.

2. Hasil Tambahan

Sedangkan yang merupakan hasil tambahan antara lain berupa daging afkiran, tinja dan bulu puyuh.

Catatan :

Penggunaan produk Nasa, Viterna, POC Nasa, dan Hormonik ini juga sangat bermanfaat untuk mendukung budidaya peternakan lainnya, seperti Budidaya Kambing, Budidaya Babi, Budidaya Unggas, maupun budidaya hewan hias.

Demikian Teknis Budidaya Burung Puyuh yang dapat kami sampaikan semoga bermanfaat untuk Anda yang menggeluti budidaya ternak burung puyuh.

Butuh Bantuan? Jangan Sungkan!
Jika Anda Butuh Bantuan, Atau pun Hal -Hal Yang Ingin Ditanyakan, Jangan Ragu Untuk Menghubungi Kami, Dengan Senang Hati Akan Kami Bantu

WA / TELP/ SMS

0821 3309 8486 (Tsel)

Panduan Budidaya Sapi Potong Agar Cepat Gemuk Dari Nasa

Panduan Budidaya Sapi Potong Agar Cepat Gemuk Dari Nasa

Cara Budidaya Sapi Potong Agar Cepat Gemuk

Cara Budidaya Sapi Potong – Usaha peternakan budidaya sapi potong di indonesia sebagian besar masih dilakukan dengan pola tradisional dan dalam skala usaha sambilan. Hal tersebut disebabkan karena besarnya nilai investasi apabila dilakukan dalam skala besar dan cara modern. Sebenarnya dengan skala kecil saja bisa mendapatkan keuntungan yang tidak sedikit apabila dilakukan dengan prinsip budidaya ternak modern.

PT NATURAL NUSANTARA selalu berupaya membantu budidaya penggemukan sapi potong baik untuk skala usaha besar maupun kecil tanpa mengesampingkan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan).

I. Penggemukan Sapi Potong

Penggemukan sapi potong yaitu pemeliharaan sapi dewasa dalam keadaan kurus untuk ditingkatkan berat badannya melalui pembesaran daging dalam waktu relatif singkat (berkisar antara 3-5 bulan).

Hal-hal yang berkaitan dengan usaha penggemukan sapi potong adalah :

1. Jenis-jenis Sapi Potong

Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah :

1. Sapi Bali

Cirinya berwarna merah dengan warna putih pada kaki dari lutut ke bawah dan pada pantat, punggungnya bergaris warna hitam (garis belut). Keunggulan sapi ini dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan yang baru.

2. Sapi Ongole

Cirinya berwarna putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir dan berpunuk, dan daya adaptasinya baik. Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura, keturunannya disebut Peranakan Ongole (PO)

3. Sapi Brahman

Cirinya berwarna coklat hingga coklat tua, dengan warna putih pada bagian kepala. Daya pertumbuhannya cepat, sehingga menjadi primadona sapi potong di Indonesia.

4. Sapi Madura

Mempunyai ciri berpunuk, berwarna kuning hingga merah bata, terkadang terdapat warna putih pada moncong, ekor dan kaki bawah. Jenis sapi ini mempunyai daya pertambahan berat badan rendah.

5. Sapi Limousin

Mempunyai ciri berwarna hitam bervariasi dengan warna merah bata dan putih, terdapat warna putih pada moncong kepalanya, tubuh berukuran besar dan mempunyai tingkat produksi yang baik

2. Pemilihan Bakalan

Bakalan merupakan faktor yang penting, karena sangat menentukan hasil akhir usaha penggemukan. Pemilihan bakalan memerlukan ketelitian, kejelian dan pengalaman.

Ciri-ciri bakalan yang baik adalah :

  • Berumur di atas 2,5 tahun.
  • Jenis kelamin jantan.
  • Bentuk tubuh panjang, bulat dan lebar, panjang minimal 170 cm tinggi pundak minimal 135 cm, lingkar dada 133 cm.
  • Tubuh kurus, tulang menonjol, tetapi tetap sehat (kurus karena kurang pakan, bukan karena sakit).
  • Pandangan mata bersinar cerah dan bulu halus.
  • Kotoran normal

II. Teknik Pemeliharaan Sapi Potong

2.1. Perkandangan

Secara umum, kandang memiliki dua tipe, yaitu individu dan kelompok. Pada kandang individu, setiap sapi menempati tempatnya sendiri berukuran 2,5 X 1,5 m. Tipe ini dapat memacu pertumbuhan lebih pesat, karena tidak terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan dan memiliki ruang gerak terbatas, sehingga energi yang diperoleh dari pakan digunakan untuk hidup pokok dan produksi daging tidak hilang karena banyak bergerak.

Pada kandang kelompok, bakalan dalam satu periode penggemukan ditempatkan dalam satu kandang. Satu ekor sapi memerlukan tempat yang lebih luas daripada kandang individu. Kelemahan tipe kandang ini yaitu terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan sehingga sapi yang lebih kuat cenderung cepat tumbuh daripada yang lemah, karena lebih banyak mendapatkan pakan.

2.2. Pakan

Berdasarkan kondisi fisiologis dan sistem pencernaannya, sapi digolongkan hewan ruminansia, karena pencernaannya melalui tiga proses, yaitu secara mekanis dalam mulut dengan bantuan air ludah (saliva), secara fermentatif dalam rumen dengan bantuan mikrobia rumen dan secara enzimatis setelah melewati rumen.

Penelitian menunjukkan bahwa penggemukan dengan mengandalkan pakan berupa hijauan saja, kurang memberikan hasil yang optimal dan membutuhkan waktu yang lama. Salah satu cara mempercepat penggemukan adalah dengan pakan kombinasi antara hijauan dan konsentrat. Konsentrat yang digunakan adalah ampas bir, ampas tahu, ampas tebu, bekatul, kulit biji kedelai, kulit nenas dan buatan pabrik pakan.

Konsentrat diberikan lebih dahulu untuk memberi pakan mikrobia rumen, sehingga ketika pakan hijauan masuk rumen, mikrobia rumen telah siap dan aktif mencerna hijauan.

Kebutuhan pakan (dalam berat kering) tiap ekor adalah 2,5% berat badannya. Hijauan yang digunakan adalah jerami padi, daun tebu, daun jagung, alang-alang dan rumput-rumputan liar sebagai pakan berkualitas rendah dan rumput gajah, setaria kolonjono sebagai pakan berkualitas tinggi.

Penentuan kualitas pakan tersebut berdasarkan tinggi rendahnya kandungan nutrisi (zat pakan) dan kadar serat kasar. Pakan hijauan yang berkualitas rendah mengandung serat kasar tinggi yang sifatnya sukar dicerna karena terdapat lignin yang sukar larut oleh enzim pencernaan.

Oleh karena itu PT NATURAL NUSANTARA mengeluarkan suplemen khusus ternak yaitu VITERNA Plus, POC NASA, dan HORMONIK. Produk ini, khususnya produk VITERNA Plus menggunakan teknologi asam amino yang diciptakan dengan pendekatan fisiologis tubuh sapi, yaitu dengan meneliti berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak.

VITERNA Plus mengandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak, yaitu :

  • Mineral-mineral sebagai penyusun tulang, darah dan berperan dalam sintesis enzim, yaitu N, P, K, Ca, Mg, Cl dan lain-lain.
  • Asam-asam amino, yaitu Arginin, Histidin, Leusin, Isoleusin dan lain-lain sebagai penyusun protein, pembentuk sel dan organ tubuh.
  • Vitamin lengkap yang berfungsi untuk berlangsungnya proses fisiologis tubuh yang normal dan meningkatkan ketahanan tubuh sapi dari serangan penyakit.
  • Asam – asam organik essensial, diantaranya asam propionat, asam asetat dan asam butirat.

Sementara pemberian Pupuk Organik Cair NASA yang mengandung berbagai mineral penting untuk pertumbuhan ternak, seperti N, P, K, Ca, Mg, Fe dan lain-lain serta dilengkapi protein dan lemak nabati, mampu meningkatkan pertumbuhan bobot harian sapi, meningkatkan ketahanan tubuh ternak, mengurangi kadar kolesterol daging dan mengurangi bau kotoran.

Sedangkan HORMONIK lebih berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh bagi ternak. Di mana formula ini akan sangat membantu meningkatkan pertumbuhan ternak secara keseluruhan.

Cara Pemakaian Produk Nasa Untuk Budidaya Sapi Potong

  • Campurkan 1 botol VITERNA Plus (500 cc) dan 1 botol POC NASA (500 cc) ke dalam sebuah wadah khusus.
  • Tambahkan ke dalam larutan campuran tersebut dengan 20 cc HORMONIK. Aduk atau kocok hingga tercampur secara merata.
  • Selanjutnya berikan kepada ternak sapi dengan dosis 10 cc per ekor. Interval 2 kali sehari, yaitu pagi dan sore hari.

2.3. Pengendalian Penyakit

Dalam pengendalian penyakit, yang lebih utama dilakukan adalah pencegahan penyakit daripada pengobatan, karena penggunaan obat akan menambah biaya produksi dan tidak terjaminnya keberhasilan pengobatan yang dilakukan.

Usaha pencegahan yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan sapi adalah :

Pemanfaatan kandang karantina.

Sapi bakalan yang baru hendaknya dikarantina pada suatu kandang terpisah, dengan tujuan untuk memonitor adanya gejala penyakit tertentu yang tidak diketahui pada saat proses pembelian. Disamping itu juga untuk adaptasi sapi terhadap lingkungan yang baru. Pada waktu sapi dikarantina, sebaiknya diberi obat cacing karena berdasarkan penelitian sebagian besar sapi di Indonesia (terutama sapi rakyat) mengalami cacingan. Penyakit ini memang tidak mematikan, tetapi akan mengurangi kecepatan pertambahan berat badan ketika digemukkan.

Waktu mengkarantina sapi adalah satu minggu untuk sapi yang sehat dan pada sapi yang sakit baru dikeluarkan setelah sapi sehat. Kandang karantina selain untuk sapi baru juga digunakan untuk memisahkan sapi lama yang menderita sakit agar tidak menular kepada sapi lain yang sehat.

Menjaga kebersihan sapi bakalan dan kandangnya.

Sapi yang digemukkan secara intensif akan menghasilkan kotoran yang banyak karena mendapatkan pakan yang mencukupi, sehingga pembuangan kotoran harus dilakukan setiap saat jika kandang mulai kotor untuk mencegah berkembangnya bakteri dan virus penyebab penyakit.

Vaksinasi untuk bakalan baru.

Pemberian vaksin cukup dilakukan pada saat sapi berada di kandang karantina. Vaksinasi yang penting dilakukan adalah vaksinasi Anthrax.

Beberapa jenis penyakit yang dapat menyerang sapi potong adalah cacingan, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), kembung (Bloat) dan lain-lain.

III. Produksi Daging

Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi daging adalah:

Pakan.

Pakan yang berkualitas dan dalam jumlah yang optimal akan berpengaruh baik terhadap kualitas daging. Perlakuan pakan dengan NPB akan meningkatkan daya cerna pakan terutama terhadap pakan yang berkualitas rendah sedangkan pemberian VITERNA Plus memberikan berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak sehingga sapi akan tumbuh lebih cepat dan sehat.

Faktor Genetik.

Ternak dengan kualitas genetik yang baik akan tumbuh dengan baik/cepat sehingga produksi daging menjadi lebih tinggi.

Jenis Kelamin.

Ternak jantan tumbuh lebih cepat daripada ternak betina, sehingga pada umur yang sama, ternak jantan mempunyai tubuh dan daging yang lebih besar.

Manajemen.

Pemeliharaan dengan manajemen yang baik membuat sapi tumbuh dengan sehat dan cepat membentuk daging, sehingga masa penggemukan menjadi lebih singkat.

Itulah beberapa hal penting dalam Teknik Budidaya Sapi Potong dari PT Natural Nusantara yang memperhatikan prinsip Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan.

Butuh Bantuan? Jangan Sungkan!
Jika Anda Butuh Bantuan, Atau pun Hal -Hal Yang Ingin Ditanyakan, Jangan Ragu Untuk Menghubungi Kami, Dengan Senang Hati Akan Kami Bantu

WA / TELP/ SMS

0821 3309 8486 (Tsel)

Produk Nasa Untuk Ternak Ayam Kampung Agar Cepat Gemuk

Produk Nasa Untuk Ternak Ayam Kampung Agar Cepat Gemuk

Produk Nasa Untuk Ternak Ayam Kampung

Cara Budidaya Ayam Kampung – Untuk mendukung keberhasilan budidaya ayam kampung, PT Natural Nusantara (NASA) mengeluarkan serangkaian produk vitamin yang sangat bermanfaat bagi peningkatan produktivitas peternakan ayam kampung, baik dari segi kualitas, kuantitas, dan efektivitas.

Produk tersebut di antaranya Viterna, Poc Nasa Dan Hormonik.

Produk Nasa Untuk Ternak Ayam Kampung

Viterna Plus merupakan suplemen khusus ternak dengan kandungan :

  • Mineral-mineral yang penting untuk pertumbuhan tulang, organ luar dan dalam, pembentukan darah dan lain-lain.
  • Asam-asam amino utama seperti Arginin, Histidin, Isoleucine, Lycine, Methionine , Phenylalanine, Threonine, Thryptophan, dan Valine sebagai penyusun protein untuk pembentukan sel, jaringan, dan organ tubuh.
  • Vitamin-vitamin lengkap, yaitu A, D, E, K, C dan B Komplek untuk kesehatan dan ketahanan tubuh.

Pemberian Poc Nasa yang mengandung berbagai mineral penting untuk pertumbuhan ternak, seperti N, P, K, Ca, Mg, Fe dan lain-lain serta dilengkapi protein dan lemak nabati, mampu meningkatkan pertumbuhan ternak ayam kampung, ketahanan tubuh babi, mengurangi kadar kolesterol daging dan mengurangi bau kotoran. Untuk hasil lebih optimal, pemberian POC NASA disarankan ditambahkan dengan Hormonik.

Hormonik berperan sebagai zat pengatur tumbuh, di mana keberadaannya akan sangat penting dalam membantu meningkatkan pertumbuhan ternak babi. Sehingga budidaya ternak ayam kampung bisa dilakukan dalam waktu lebih singkat tetapi tetap mendapatkan hasil yang optimal.

Pemakaian Viterna Plus, Poc Nasa, dan Hormonik bisa dilakukan sebagai campuran air minum yang diberikan sepanjang hari. Bisa pula dicampurkan sebagai pembasah pada pakan konsentrat.

Butuh Bantuan? Jangan Sungkan!
Jika Anda Butuh Bantuan, Atau pun Hal -Hal Yang Ingin Ditanyakan, Jangan Ragu Untuk Menghubungi Kami, Dengan Senang Hati Akan Kami Bantu

WA / TELP/ SMS

0821 3309 8486 (Tsel)

Cara Budidaya Udang Windu Paling Bagus Dengan Produk Nasa

Cara Budidaya Udang Windu Paling Bagus Dengan Produk Nasa

Cara Budidaya Udang Windu Paling Bagus Dengan Produk Nasa

Cara Budidaya Udang Windu – Budidaya udang windu di Indonesia dimulai pada awal tahun 1980-an, dan mencapai puncak produksi pada tahun 1985-1995. Sehingga pada kurun waktu tersebut udang windu merupakan penghasil devisa terbesar pada produk perikanan. Selepas tahun 1995 produksi udang windu mulai mengalami penurunan.

Hal itu disebabkan oleh penurunan mutu lingkungan dan serangan penyakit. Melihat kondisi tersebut, PT. NATURAL NUSANTARA merasa terpanggil untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut dengan produk-produk yang berprinsip kepada Kualitas, Kuantitas dan Kelestarian (K-3).

I. TEKNIS BUDIDAYA UDANG

1.1. Syarat Teknis

  • Lokasi yang cocok untuk tambak udang yaitu pada daerah pantai yang mempunyai tanah bertekstur liat atau liat berpasir yang mudah dipadatkan sehingga mampu menahan air dan tidak mudah pecah.
  • Air yang baik yaitu air payau dengan salinitas 0-33 ppt dengan suhu optimal 26 – 300C dan bebas dari pencemaran bahan kimia berbahaya.
  • Mempunyai saluran air masuk/inlet dan saluran air keluar/outlet yang terpisah.
  • Mudah mendapatkan sarana produksi yaitu benur, pakan, pupuk , obat-obatan dan lain-lain.
  • Pada tambak yang intensif harus tersedia aliran listrik dari PLN atau mempunyai Generator sendiri.

1.2. Tipe Budidaya

Berdasarkan letak, biaya dan operasi pelaksanaannya, tipe budidaya dibedakan menjadi :

Tambak Ekstensif atau tradisional

Petakan tambak biasanya di lahan pasang surut yang umumnya berupa rawa bakau. Ukuran dan bentuk petakan tidak teratur, belum meggunakan pupuk dan obat-obatan dan program pakan tidak teratur.

Tambak Semi Intensif

Lokasi tambak sudah pada daerah terbuka, bentuk petakan teratur tetapi masih berupa petakan yang luas (1-3 ha/petakan), padat penebaran masih rendah, penggunaan pakan buatan masih sedikit.

Tambak Intensif

Lokasi di daerah yang khusus untuk tambak dalam wilayah yang luas, ukuran petakan dibuat kecil untuk efisiensi pengelolaan air dan pengawasan udang, padat tebar tinggi, sudah menggunakan kincir, serta program pakan yang baik.

1.3. Benur

Benur yang baik mempunyai tingkat kehidupan (Survival Rate/SR) yang tinggi, daya adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang tinggi, berwarna tegas/tidak pucat baik hitam maupun merah, aktif bergerak, sehat dan mempunyai alat tubuh yang lengkap. Uji kualitas benur dapat dilakukan secara sederhana, yaitu letakkan sejumlah benur dalam wadah panci atau baskom yang diberi air, aduk air dengan cukup kencang selama 1-3 menit.

Benur yang baik dan sehat akan tahan terhadap adukan tersebut dengan berenang melawan arus putaran air, dan setelah arus berhenti, benur tetap aktif bergerak.

1.4. Pengolahan Lahan

Pengangkatan lumpur.

Setiap budidaya pasti meninggalkan sisa budidaya yang berupa lumpur organik dari sisa pakan, kotoran udang dan dari udang yang mati. Kotoran tersebut harus dikeluarkan karena bersifat racun yang membahayakan udang. Pengeluaran lumpur dapat dilakukan dengan cara mekanis menggunakan cangkul atau penyedotan dengan pompa air/alkon.

Pembalikan Tanah.

Tanah di dasar tambak perlu dibalik dengan cara dibajak atau dicangkul untuk membebaskan gas-gas beracun (H2S dan Amoniak) yang terikat pada pertikel tanah, untuk menggemburkan tanah dan membunuh bibit panyakit karena terkena sinar matahari/ultra violet.

Pengapuran.

Bertujuan untuk menetralkan keasaman tanah dan membunuh bibit-bibit penyakit. Dilakukan dengan kapur Zeolit dan Dolomit dengan dosis masing-masing 1 ton/ha.

Pengeringan.

Setelah tanah dikapur, biarkan hingga tanah menjadi kering dan pecah-pecah, untuk membunuh bibit penyakit.
Perlakuan pupuk TON (Tambak Organik Nusantara). Sebagai salah satu Produk Perikanan Nasa, TON bermanfaat untuk mengembalikan kesuburan lahan serta mempercepat pertumbuhan pakan alami/plankton dan menetralkan senyawa beracun, lahan perlu diberi perlakuan pupuk TON dengan dosis 5 botol/ha untuk tambak yang masih baik atau masih baru dan 10 botol TON untuk areal tambak yang sudah rusak.

Caranya masukkan sejumlah TON ke dalam air, kemudian aduk hingga larut. Siramkan secara merata ke seluruh areal lahan tambak.

1.5. Pemasukan Air

Setelah dibiarkan 3 hari, air dimasukkan ke tambak. Pemasukan air yang pertama setinggi 10-25 cm dan biarkan beberapa hari, untuk memberi kesempatan bibit-bibit plankton tumbuh setelah dipupuk dengan TON. Setelah itu air dimasukkan hingga minimal 80 cm.

Perlakuan Saponen bisa dilakukan untuk membunuh ikan yang masuk ke tambak. Untuk menyuburkan plankton sebelum benur ditebar, air dikapur dengan Dolomit atau Zeolit dengan dosis 600 kg/ha.

1.6. Penebaran Benur

Tebar benur dilakukan setelah air jadi, yaitu setelah plankton tumbuh yang ditandai dengan kecerahan air kurang lebih 30-40 cm. Penebaran benur dilakukan dengan hati-hati, karena benur masih lemah dan mudah stress pada lingkungan yang baru. Tahap penebaran benur adalah :

  • Adaptasi suhu. Plastik wadah benur direndam selama 15 30 menit, agar terjadi penyesuaian suhu antara air di kolam dan di dalam plastik.
  • Adaptasi udara. Plastik dibuka dan dilipat pada bagian ujungnya. Biarkan terbuka dan terapung selama 15 30 menit agar terjadi pertukaran udara dari udara bebas dengan udara dalam air di plastik.
  • Adaptasi kadar garam/salinitas. Dilakukan dengan cara memercikkan air tambak ke dalam plastik selama 10 menit. Tujuannya agar terjadi percampuran air yang berbeda salinitasnya, sehingga benur dapat menyesuaikan dengan salinitas air tambak.
  • Pengeluaran benur. Dilakukan dengan memasukkan sebagian ujung plastik ke air tambak. Biarkan benur keluar sendiri ke air tambak. Sisa benur yang tidak keluar sendiri, dapat dimasukkan ke tambak dengan hati-hati/perlahan.

1.7. Pemeliharaan

Pada awal budidaya, sebaiknya di daerah penebaran benur disekat dengan waring atau hapa, untuk memudahkan pemberian pakan. Sekat tersebut dapat diperluas sesuai dengan perkembangan udang, setelah 1 minggu sekat dapat dibuka. Pada bulan pertama yang diperhatikan kualitas air harus selalu stabil.

Penambahan atau pergantian air dilakukan dengan hati-hati karena udang masih rentan terhadap perubahan kondisi air yang drastis. Untuk menjaga kestabilan air, setiap penambahan air baru diberi perlakuan TON dengan dosis 1 – 2 botol/ha untuk menumbuhkan dan menyuburkan plankton serta menetralkan bahan-bahan beracun dari luar tambak.

Mulai umur 30 hari dilakukan sampling untuk mengetahui perkembanghan udang melalui pertambahan berat udang. Udang yang normal pada umur 30 hari sudah mencapai size (jumlah udang/kg) 250-300. Untuk selanjutnya sampling dilakukan tiap 7-10 hari sekali.

Produksi bahan organik terlarut yang berasa dari kotoran dan sisa pakan sudah cukup tinggi, oleh karena itu sebaiknya air diberi perlakuan kapur Zeolit setiap beberapa hari sekali dengan dosis 400 kg/ha. Pada setiap pergantian atau penambahan air baru tetap diberi perlakuan TON.

Mulai umur 60 hari ke atas, yang harus diperhatikan adalah manajemen kualitas air dan kontrol terhadap kondisi udang. Setiap menunjukkan kondisi air yang jelek (ditandai dengan warna keruh, kecerahan rendah) secepatnya dilakukan pergantian air dan perlakuan TON 1-2 botol/ha.

Jika konsentrasi bahan organik dalam tambak yang semakin tinggi, menyebabkan kualitas air/lingkungan hidup udang juga semakin menurun, akibatnya udang mudah mengalami stres, yang ditandai dengan tidak mau makan, kotor dan diam di sudut-sudut tambak, yang dapat menyebabkan terjadinya kanibalisme.

1.8. Panen

Udang dipanen disebabkan karena tercapainya bobot panen (panen normal) dan karena terserang penyakit (panen emergency). Panen normal biasanya dilakukan pada umur kurang lebih 120 hari, dengan size normal rata-rata 40 – 50. Sedang panen emergency dilakukan jika udang terserang penyakit yang ganas dalam skala luas (misalnya SEMBV/bintik putih). Karena jika tidak segera dipanen, udang akan habis/mati.

Udang yang dipanen dengan syarat mutu yang baik adalah yang berukuran besar, kulit keras, bersih, licin, bersinar, alat tubuh lengkap, masih hidup dan segar. Penangkapan udang pada saat panen dapat dilakukan dengan jala tebar atau jala tarik dan diambil dengan tangan. Saat panen yang baik yaitu malam atau dini hari, agar udang tidak terkena panas sinar matahari sehingga udang yang sudah mati tidak cepat menjadi merah/rusak.

II. Pakan Udang

Pakan udang ada dua macam, yaitu:

  • Pakan alami yang terdiri dari plankton, siput-siput kecil, cacing kecil, anak serangga dan detritus (sisa hewan dan tumbuhan yang membusuk).
  • Pakan buatan berupa pelet. Pada budidaya yang semi intensif apalagi intensif, pakan buatan sangat diperlukan. Karena dengan padat penebaran yang tinggi, pakan alami yang ada tidak akan cukup yang mengakibatkan pertumbuhan udang terhambat dan akan timbul sifat kanibalisme udang.

Pelet udang dibedakan dengan penomoran yang berbeda sesuai dengan pertumbuhan udang yang normal.

  • Umur 1-10 hari pakan 01
  • Umur 11-15 hari campuran 01 dengan 02
  • Umur 16-30 hari pakan 02
  • Umur 30-35 campuran 02 dengan 03
  • Umur 36-50 hari pakan 03
  • Umur 51-55 campuran 03 dengan 04 atau 04S. (jika memakai 04S, diberikan hingga umur 70 hari).
  • Umur 55 hingga panen pakan 04, jika pada umur 85 hari size rata-rata mencapai 50, digunakan pakan 05 hingga panen.

Kebutuhan pakan awal untuk setiap 100.000 ekor adalah 1 kg, selanjutnya tiap 7 hari sekali ditambah 1 kg hingga umur 30 hari. Mulai umur tersebut dilakukan cek ancho dengan jumlah pakan di ancho 10% dari pakan yang diberikan.

Waktu angkat ancho untuk size 1000-166 adalah 3 jam, size 166-66 adalah 2,5 jam, size 66-40 adalah 2,5 jam dan kurang dari 40 adalah 1,5 jam dari pemberian.

Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai Teknik Budidaya Udang Windu teknologi NASA dari PT Natural Nusantara dengan harapan bisa membantu meningkatkan hasil budidaya udang windu di Indonesia.

Butuh Bantuan? Jangan Sungkan!
Jika Anda Butuh Bantuan, Atau pun Hal -Hal Yang Ingin Ditanyakan, Jangan Ragu Untuk Menghubungi Kami, Dengan Senang Hati Akan Kami Bantu

WA / TELP/ SMS

0821 3309 8486 (Tsel)